Camat Seberang Ulu II Puji Kreativitas Warga 12 Ulu Jaga Tradisi Bubur Suro dan Tenun Muzawaroh

0
3

Sumsel.Tajam.co.id, Palembang – Pemerintah Kecamatan Seberang Ulu (SU) II Palembang terus berkomitmen mengawal kelestarian nilai-nilai kearifan lokal sekaligus mendorong percepatan legalitas aset budaya sebagai identitas nasional. Hal ini ditegaskan di sela-sela peninjauan kesiapan peringatan 10 Muharram di Kelurahan 12 Ulu, yang menyandingkan tradisi gotong royong pembuatan bubur sop Muharram dan pelestarian kain tradisional Selendang Muzawaroh.

​Dalam kunjungan monitoring ke sejumlah posko swadaya masyarakat, aktivitas warga terlihat dinamis, mulai dari proses meracik bumbu berbahan dasar daging hingga pengupasan bahan pelengkap seperti ikan teri. Tidak hanya ketahanan pangan berbasis komunitas, perhatian khusus juga diarahkan pada pelestarian Selendang Muzawaroh, kerajinan tenun khas Palembang selain songket yang saat ini tengah diusulkan untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atau paten.

​Camat Seberang Ulu II, Arya Andriana, memberikan apresiasi mendalam atas sinergi dan kemandirian yang ditunjukkan oleh warga. Menurutnya, kerukunan dan semangat kebersamaan ini merupakan modal sosial yang sangat besar untuk pembangunan wilayah.

​”Salah satu warisan leluhur lah bahasanya ya, khas Palembang. Iya, selain songket itu ada namanya Selendang Muzawaroh ya. Itu. Jadi, kalau enggak salah sudah diusulkan untuk dipatenkan bahwa ini punya kita, punya Indonesia,” ujar Arya Andriana saat berdialog bersama para pengrajin dan tokoh masyarakat setempat.

​Arya menambahkan bahwa langkah mendaftarkan Selendang Muzawaroh ke ranah hukum merupakan bentuk inovasi strategis agar warisan turun-temurun ini tidak diklaim oleh pihak lain dan tetap terjaga otentisitasnya sebagai milik bangsa.

​Selain meninjau persiapan kerajinan tenun, Arya Andriana didampingi jajaran kelurahan juga menyambangi kelompok ibu-ibu yang sedang sibuk mempersiapkan hidangan bubur tradisional. Pihaknya berharap kegiatan religi dan budaya seperti ini dapat terus dipertahankan ke depan, tidak hanya sebagai ritual tahunan tetapi juga sebagai media pemersatu antar warga.

​Aktivitas monitoring ditutup dengan sesi apresiasi bersama perangkat kelurahan dan warga, yang mencerminkan kedekatan emosional antara birokrasi pemerintahan tingkat kecamatan dengan masyarakat akar rumput di wilayah Seberang Ulu II.(Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini