Sumsel.Tajam.co.id, Palembang – Pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Beladiri Tahun 2025 di Kudus, Jawa Tengah, menjadi sebuah tonggak penting bagi perkembangan olahraga beladiri di tanah air.
Kudus, yang selama ini lebih dikenal sebagai kota dengan kekayaan sejarah dan religius, kini menjelma sebagai tuan rumah ajang prestisius yang mempertemukan berbagai cabang olahraga beladiri dalam semangat kompetisi yang sehat.
Dr. Amiruddin Sandy, S.STP.,M.Si, Ketua Umum Federasi Savate Indonesia (FSI) Pengprov Sumatera Selatan, memandang bahwa PON Beladiri 2025 bukan hanya arena untuk menguji kemampuan fisik dan teknik atlet, melainkan juga ruang untuk meneguhkan nilai-nilai luhur: disiplin, keberanian, sportivitas, serta persaudaraan antarbangsa dan antardaerah.
“Inilah hakikat beladiri yang sejati—bahwa kekuatan bukan sekadar untuk menang, melainkan untuk menjaga martabat dan kehormatan”, kata Amir ketika ditemui diruang kerjanya, Senin (29/9/2025)
Di tengah derasnya arus modernisasi, penyelenggaraan PON Beladiri di Kudus menghadirkan pesan yang kuat: bahwa olahraga beladiri tetap relevan sebagai benteng moral generasi muda. Ia mengajarkan ketangguhan mental, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap lawan.
Amiruddin Sandy, menambahkan bahwa nilai-nilai ini sangat penting di tengah tantangan zaman yang kerap menyingkirkan etika demi capaian instan.
Bagi cabang Savate, olahraga beladiri asal Prancis yang kini berkembang pesat di Indonesia, PON Beladiri 2025 adalah kesempatan berharga. Kehadiran Savate di kancah nasional menandai pengakuan bahwa Indonesia terbuka terhadap keragaman budaya olahraga dunia, sembari tetap memperkaya khasanah olahraga nasional.
Atlet-atlet Savate yang tampil di Kudus tidak hanya membawa nama daerah, tetapi juga mengibarkan semangat Indonesia yang tangguh, modern, dan berkarakter.
“Saya juga melihat peran penting tuan rumah, Kudus, yang mampu menyiapkan infrastruktur serta suasana kompetisi yang kondusif. Kehadiran masyarakat yang ramah serta dukungan penuh dari berbagai pihak akan menjadikan event ini bukan hanya pesta olahraga, tetapi juga pesta budaya”, tegas Amir.
Kudus dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan potensi daerahnya ke tingkat nasional bahkan internasional.
Dirinya berharap, PON Beladiri 2025 di Kudus tidak berhenti sebagai sebuah perhelatan sesaat, tetapi meninggalkan warisan: lahirnya atlet-atlet beladiri yang berprestasi, semakin kokohnya solidaritas antardaerah, serta semakin tingginya apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai sportivitas.
Lebih dari itu, Amiruddin Sandy mendukung semoga event ini mampu menumbuhkan semangat persatuan Indonesia yang terajut melalui gelanggang olahraga.
Sebagaimana filosofi beladiri, kemenangan sejati bukanlah ketika kita menjatuhkan lawan, melainkan ketika kita mampu mengalahkan ego, mengendalikan diri, dan tetap menjunjung tinggi persaudaraan.
PON Beladiri 2025 di Kudus adalah momentum emas untuk membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya negara besar, tetapi juga bangsa yang berjiwa besar. (ril)









