Sumsel.Tajam.co.id, Palembang – Menyikapi pemberitaan di sejumlah media online yang menyoroti insiden di tengah acara Haflah Tahfizh Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Karim Palembang, pimpinan pondok, Ustadz M. Mukhlis, M.A, memberikan klarifikasi resmi untuk meluruskan informasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
Dalam penjelasannya, Ustadz Mukhlis menerangkan bahwa pada hari kegiatan tersebut, pesantren sedang melaksanakan dua acara besar, yaitu Wisuda Santri Tahfizh Al-Qur’an dan Peletakan Batu Pertama Sekolah Tahfizh Al-Qur’an Al-Karim. Acara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat, dan warga sekitar.
“Saat itu saya mendampingi Bapak Rosyidin Hasan selaku perwakilan Gubernur untuk meninggalkan lokasi. Ketika beliau diwawancarai oleh wartawan, saya juga diminta untuk diwawancarai. Karena masih dalam rangkaian acara, saya sempat mohon izin agar wawancaranya dilakukan setelah acara selesai. Namun, mereka tampaknya tetap ingin melakukan wawancara saat itu juga. Akhirnya saya bersedia. Setelah mewawancarai perwakilan Gubernur, mereka kemudian mewawancarai saya dan menyampaikan komplain terkait kejadian sebelumnya,” ujar Ustadz Mukhlis, Senin (13/10).
Menurutnya, tidak lama kemudian terjadi miskomunikasi antara salah satu panitia dengan rekan-rekan media yang tengah bertugas, yang dinilai menyinggung perasaan wartawan. Mengetahui hal itu, Ustadz Mukhlis langsung memohon maaf atas nama pribadi, pimpinan pondok, dewan guru, dan pihak panitia.
“Saya mendengarkan keluhan dari rekan media, dan saya sampaikan dengan tulus bahwa ucapan yang menyinggung itu memang tidak pantas. Kami meminta maaf sepenuhnya karena wartawan memiliki hak dan kewajiban yang patut dihormati,” tegasnya.
Ia menambahkan, pesantren juga telah memberikan teguran kepada panitia yang bersangkutan agar hal serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari. “Kami sudah menegur dan mengingatkan agar semua pihak di lingkungan pondok lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, terutama saat ada kegiatan publik,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ustadz Mukhlis berharap agar seluruh pihak dapat menyikapi persoalan ini dengan bijak dan tidak memperluas persoalan, terlebih karena lembaga yang ia pimpin merupakan institusi pendidikan berbasis Al-Qur’an.
“Kami sedang berupaya membangun lembaga pendidikan Al-Qur’an. Karena itu, kami berharap semua pihak ikut menjaga nama baik Al-Qur’an dan lembaga pendidikan Islam. Kami tidak ingin kejadian ini disalahpahami atau menimbulkan kesan negatif,” ujarnya.
Sebagai penutup, pihak pesantren menyampaikan apresiasi kepada media dan wartawan yang telah hadir meliput kegiatan tersebut serta menunjukkan itikad baik dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan wartawan yang telah hadir, meliput, dan memberi perhatian kepada kegiatan kami. Semoga hubungan baik antara lembaga pendidikan dan media terus terjalin dalam semangat saling menghormati,” pungkas Ustadz Mukhlis.
Sementara itu, Ustadzah R meluruskan pemberitaan yang menyebut dirinya menyinggung profesi wartawan saat acara haflah tahfizh. Ia menegaskan tidak pernah mengatakan wartawan meminta uang.
“Saya hanya menjelaskan bahwa kalau kami mengundang wartawan untuk meliput, biasanya kami siapkan dana. Tapi bukan berarti saya menuduh mereka meminta bayaran,” ujarnya.
Menurutnya, ucapan tentang peliputan “tidak berbayar” disalahpahami hingga menimbulkan kesalahpahaman.
“Saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun. Hanya menjelaskan bahwa peliputan di acara kami bersifat terbuka. Saya telah meminta maaf langsung dan menunjukkan itikad baik, saya menghormati teman-teman media dan berharap persoalan ini selesai dengan baik,” tutupnya.(Rilis)









